Pagi itu gue telat masuk sekolah, padahal udah capek-capek lari. Taunya pas sampai sekitar 20 meter dekat sekolah, malah gerbangnya udah dikunci. Bisa dibilang itu hari sial bagi gue, gimana nggak? Di halte, busnya langka bener kalaupun ada penuh semua atau juga bus khusus pekerja pabrik. Jadi nggak bakalan dibolehin naik. Gue masih inget baget jam 6:55 baru berangkat dari halte bayangin aja bel masuk jam 6:50. Lanjut ketika gue sampai di depan gerbang, sumpah bikin jengkel satpamnya sok sibuk, padahal dia liat gue ma temen-temen. Sampai sekitar 10 menit nunggu akhirnya gerbang dibuka, sebelumnya gue sempet mikir buat pulang aja kalo dibiari kaya gini. Nggak ngucap salam atau gimana tuh satpam langsung marah-marah aja.
"Kalian tahu sekarang jam berapa? Tadi kenapa nggak lari?"
Dalam batin, gue pengen baget ngomong gini, "Eh pak, walaupun gue lari juga percumah. Orang gerbangnya juga udah dikunci. Tapi akhirnya gue cuma diem aja.
"Sekarang catat nama, kelas, dan alasan kalian. Besok kalo kalian sampai telat lagi tak suruh bersihin lapangan, paham?" kata Satpam
Semuanya cuma iya-iya aja, karena yang telat hanya empat orang yaitu Gue, Khoerunisa, Kamila, dan Dani Setya jadi hukumannya nyiram tanaman terus Dani yang bersihin pot. Padahal ni ya kita baru aja sekitar 2 minggu yang lalu masuk di kelas 3 kecuali Kamila, ini pertama kalinya gue telat masuk sekolah. Setelah itu kita ambil ember ma gayung di wc, nggak lupa juga airnya. Ketika Khoerunisa lagi nyiram, tuh satpam dateng ngomel-ngomel.
"Eh itu 1 cibuk (1 gayung) jangan dikit-dikit," kata satpam
Habis dia pergi kita ketawa-tawa, bahasanya itu lo 1 cibuk. Khoerunisa niru logat, dan kata-kata satpam tadi. Mana lucu baget lagi bikin gue, Kamila nggak bisa berhenti buat cengar-cengir.
"Itu satu cibuk itu," kata Khoerunisa berulang-ulang.
Sampai jam pertama selesai alias bel pergantian jam berbunyi akhirnya kita berempat dibolehin masuk ke kelas masing-masing. Gue, Kamila, Khoerunisa, dan Dani Setya berpisah tepat di depan Lab biologi. Kebetulan hari ini jadwalnya IPS jadi gue nggak terlalu takut ma gurunya. Ketika sampai di pintu gue ketuk-ketuk, dan masuk.
"Kenapa? Telat ya?" kata guru
"Hehe iya pak,"
Sontak saja anak satu kelas langsung bersorak. Gue nggak tau apa maksudnya.
"Cie," kata anak-anak
"Apaan sih?"
"Ya udah duduk sana," kata guru
Lalu gue langsung duduk karena bangkunya emang paling depan. Temen semeja namanya Ana, langsung ngajak cerita aja kronologi kenapa sampai bisa telat. Sambil nyatet materi yang kelewatan, dikit-dikit gue ngasih penjelasan ma dia.
"Jadi gini, jam 6:55 busnya baru dateng. Ya emang sih ada bus lain yang lewat sebelumnya, tapi itu khusus pekerja pabrik,"
"Pantesan aja, gue kira lo nggak berangkat. Eh tau nggak tadi Malik N kuatir baget lo belum dateng, anak-anak laib juga tau itu, " kata Ana
"Ha? Nggak mungkin, seriusan lo?"
"Ih ngapain juga gue boong," kata Ana
Jadi sejak saat itu anak-anak sekelas kaya gitu ma gue and Malik N. Nah Malik N adalah salah satu mantan OSIS satu angkatan ma gue, terkenal juga sebagai anak yang sering baget telat, cuman dulu kita nggak terlalu akrab. Ketika ditakdirkan untuk bersama dalam satu kelas (Cieelah bahasanya), dan kebetulan juga tempat duduk kami bersebelahan. Gue ma dia jadi akrab baget. Ketika lagi asik ngobrol ma Ana, Malik N manggil nama gue.
"Han, Hania!" kata Malik N
"Apa?"
"Gue kira loe nggak berangkat," kata Malik N
"Tadinya juga gue mau gitu,"
"Kok bisa loe sampai telat gitu?" kata Malik N
"Ya bisa, orang gue berangkat jam 6:55,"
"Keren," kata Malik N
"Virus loe tuh nular ke gue,"
"Enak aja! Tadi suruh ngapain?" kata Malik N
"Nyiram taneman,"
"Oh ringan baget hukumannya yak?" kata Malik N
"Ya iyalah secara gue nggak kaya loe yang udah akut,"
"Emang penyakit?" kata Malik N
"Bisa jadi,"
"Eh tugas bahasa inggris udah loe kerjain?" kata Malik N
"Ya udah dong, gini-gini semua udah siap nggak kaya loe!"
"Gue nyontek please," kata Malik N
"Iya iya,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar