Sepatu
Untukku
Hani
Aristantika
Aisyah adalah
seorang gadis cilik yang duduk dibangku kelas 4 SD, di MI Tanjung daerah
Kalimantan. Ia tinggal bersama nenek, dan kedua orang tuanya. Aisyah hidup
dalam kesederhanaan yang dibarengi dengan kentalnya bekal ilmu agama islam.
Setiap harinya ia membantu ibu, dan neneknya di warung kadang-kadang juga ia
membantu bapaknya bekerja di ladang. Sekarang Aisyah telah hafal sekitar 12
juzz Al-Qur'an, dan khatam 2 kali. Walaupun begitu ia tidak sombong, malah
Aisyah kadang membantu temanya yang kesulitan membanca Al-Qur'an. Jadi tidak
heran jika Aisyah memiliki banyak teman.
Suatu hari
Aisyah beserta Syifa, Faris, dan Zahra sedang berjalan menuju sekolah, mereka
saling bercanda dan bercerita di jalan. Ketika melewati tanah berbatuan, tiba-tiba
saja Aisyah menjerit kesakitan. Ternyata sepatunya telah jebol, dan rusak parah
sehingga kerikil-kerikil tadi masuk serta diinjak oleh Aisyah. Kakinya pun
berdarah, lalu mereka memutuskan untuk berhenti sejenak.
“Astagfirullah”
kata Aisyah
“Kamu kenapa
Aisyah?” tanya Faris
“Aisyah, kakimu
berdarah.” kata Zahra
“Tidak apa-apa
kok, hanya lecet saja. Sepatuku jebol dan tidak sengaja aku menginjak kerikil.”
kata Aisyah sambil tersenyum
“Sini biar aku
obati.” kata Syifa
“Tidak perlu, ayo
kita cepat nanti terlambat.” kata Aisyah
Mereka pun
melanjutkan perjalanan ke sekolah. Aisyah tetap berjalan seperti biasa walau
harus merasakan rasa sakit. 10 menit kemudian ia, Syifa, Faris, dan Zahra
sampai di sekolah tepat waktu dimulai. Pelajaran hari ini seharusnya adalah
bahasa inggris, namun karena guru hanya datang sebulan sekali jadi kadang
diselingi matematika, ipa, dan agama. Maklumlah jarak menuju daerah Aisyah
tinggal ini cukup jauh dari kecamatan, sehingga keadaanya memprihatinka.
Walaupun begitu semangat kami tak pernah pudar untuk sekolah. Buktinya ada
sekitar 60 anak yang bersekolah di MI Tanjung. Pelajaranpun segera dimulai.
“Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatu.” kata Pak Sulaiman
“Wa’alaikumussalam
Warahmatullahi Wabarakatu.” kata semua murid
“Hari ini karena
Bu Rere tidak hadir, maka pelajaran bahasa
inggris diganti dengan pendidikan agama.” Kata Pak Sulaiman
“Baik, pak.” kata
semua murid
“Nah, yang akan
kita bahas adalah mengenai sebuah Hadist riwayat Baihaqi yang berbunyi, Innallaha
yuhibbu idza’amila ahadukum ‘amalan anyutqinahu.Artinya sesungguhnya Allah
menyukai jika salah satu dari kalian melakukan amalan (pekerjaan) yang
dilakukan dengan tekun (maksimal/sebaik-baiknya).” kata Pak Sulaiman
“Pak apa maksud
dari hadis tersebut?” kata Faris
“Maksudnya yaitu
hadist tadi mengajarkan kita tentang manfaat dari tekun dalam beramal atau
bekerja akan sentiasa dicintai oleh Allah Ta’ala.” kata Pak Sulaiman
“Jadi kalau kita
dicintai oleh Allah maka semua yang kita lakukan akan mendapatkan balasan?”
kata Zahra
“Tentu saja,
maka dari itu dalam melakukan segala sesuatu kita harus bersungguh-sunggur agar
kita menjadi manusia yang dicintai oleh Allah.” kata Pak Sulaiman
“Seperti Mn
Jadda Waa Jadda ya pak?” kata Aisyah
“Ya kurang lebih seperti itu. Siapa yang
bersungguh-sungguh dia akan berhasil.” Kata Pak Sulaiman
Tak terasa waktu
berlalu begitu cepat bunyi lonceng menandakan pelajaran selesai. Setelah
berdo’a dan Pak Sulaiman memberikan salam, kami pun berjalan keluar kelas bersama.
Dengan melewati jalanan terjal naik turun keadaan kaki Aisyah semakin parah,
jika samapi besok ia belum dibelikan sepatu mungkin besok ia harus berangkat
sekolah memakai sandal. Sesampainya sebelum ke rumah Asiyah mampir dahulu di warung ibunya untuk meminta
sepatu, sekaligus bantu-bantu.
“Assalamu’alaikum.”
kata Aisyah
“Wa’alaikum
salam. Sudah pulang ya? Aisyah kaki kamu kenapa?” kata Ibu
“Iya bu, tadi sepatu Aisyah jebol , dan banyak
kerikil masuk lalu aku sengaja keinjak.” kata Aisyah sambil tersenyum
“ Begitu ya,
sini biar ibu obati.” kata Ibu
“Oh ya Aisyah boleh meminta sesuatu tidak bu?’
Tanya Aisyah
“Memangnya mau
minta apa?” kata Ibu
“Minta sepatu
bu.” kata Aisyah
Sang ibu hanya
terdiam, setelah beberapa menit kemudian tetesan air mata mulai membasahi pipi
beliau. Aisyah masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ibunya
menangis.
“Nak, sabar ya.
Ibu, dan ayah tidak punya uang sekarang jadi Aisyah tolong mengerti ya.” kata
Ibu
“Iya bu.” kata
Aisyah sambil tersenyum
Malam itu di
kamarnya Aisyah tampak sedang termenung, ia berpikir keras bagaimana dengan besok,
bagaimana dengan sepatunya?. Apakah dia
harus berangkat dengan memakai sandal? Waktu menunjukkan pukul 20.00 Aisyah terlihat mondar-mandir kesana kemari,
hingga sampai suatu ketika sebuah ide muncul didalam benaknya.Walaupun begiu
masalah belum sepenuhya selesai. Masih ada beberapa kendala yang mesti dia
hadapi untuk mewujudkan idenya tersebut.
Keesokan harinya
Aisyah terpaska berangkat memakai sandal, tentu saja hal tersebut menimbulkan
pertanyaan bagi Syifa, Zahra, dan Faris. Tetapi Aisyah hanya menanggapinya
dengan sebuah senyuman. Sesampainya di sekolah, kebetulan hari ini guru dari
dinas yaitu Bu Rere datang mengajar. Sontak saja Aisyah mendapatkan teguran.
“Aisyah, kenapa
kamu tidak mamakai sepatu?” kata Bu Rere
“Maaf bu, saya
salah karena tidak memakai sepatu.” kata Aisyah
“ Baiklah, untuk
hari ini ibu maafkan. Tetapi besok-besok lagi kalau sekolah kamu harus mamakai
sepatu.” kata Bu Rere
“Iya bu, terima
kasih.” kata Aisyah
Alhamdulillah Bu
Rere berbaik hati pada Aisyah hari ini, sehingga ia tidak dimarahi. Rencananya
pulang sekolah nanti ia akan pergi ke pasar untuk bekerja menjadi kuli, atau
apa sajalah yang penting halal, dan uangnya bisa ia kumpulkan untuk membeli sepasang sepatu. Semoga saja Allah
melancarkan niatnya tersebut, selain Aisyah ingin meringankan beban orang
tuanya, ia juga tidak ingin merepotkan.
Tidak terasa
waktu menunjukkan pukul 11.00, pelajanpun berakhir, unuk hari ini Aisyah
sengaja pulang sendiri. Jarak dari sekolah menuju pasar cukup jauh, apalagi
jika ditempuh dengan berjalan kaki. Meskipun begitu ia tampak semangat, dan
tidak ada kata putus asa didalam pancaran sinar matanya. Ketika sampai di
pasar, dengan ramah ia menawarkan tenaganya Aisyah tidak pernah mematok
upah.Walaupun begitu ada juga yang tega tidak memberinya uang sepeserpun,
tetapi Aisyah tetap bersyukur karena ada yang memberinya uang lebih.
“Permisi bu, apa
ada yang bisa saya bantu?” tanya Aisyah ramah
“Oh tentu saja,
bisa bawakan belanjaan ini ke depan parkiran?” kata Seorang Ibu
“Parkiran depan
ya, baik.” kata Aiysah sambil tersenyum
“Ayo lewat
sini.” kata Seorang Ibu
“Iya.” kata Aisyah
Aisyah pun
mengikuti ibu adi sampai ke tempat tujuan
dengan membawa belanjaan, sesampainya di parkiran ia memberikan uang
sebagai upah. Sekarang hampir seiap hari Aisyha pergi ke pasar untuk
mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membeli sepasang sepatu. Setiap
pekerjaana selalu dilakukan dengan penuh semangat, dan bersungguh-sungguh.
Suatu hari
ketiga teman Aisyah mengeahui bahwa ia bekerja di pasar, lalu mereka hendak
membantu. Ia pun berusaha menolak penawaran tersebut dengan alasan ingin
bekerja, dan membeli sepatu dengan usahanya sendiri. Dengan rasa berat hati
mereka menerima keputusan yang telah Aisyah buat. Walaupun begitu teman-teman
Aisyah memiliki sebuah rencana untuk membantu tanpa sepengahuan Aisyah. Sampai
suatu ketika ia mengetahui rencana tersebut secara tidak sengaja.
“Maaf
teman-teman, bukannya aku sombong. Tetapi aku ingin membeli sepattu dengan
jerih payahku sendiri, aku tidak mau menyusahkan kalian.” kata Aisyah
“ Kami tidak
merasa direpotkan kok.” kata Faris
“Iya itu benar.” kata Syifa
“ Aku benar-benar
minta maaf, ini sudah menjadi keputusanku. Kumohon kalian bias mengerti.” kata
Aisyah
“Baiklah kalau
memang begitu.” kata Zahra
Dua minggu
kemudian, uang yang telah dikumpulkan Aisyah sudah cukup untuk membeli sepatu
walaupun hanya Rp.150.000,00. Keesokan harinya sepulang sekolah Aisyah pergi ke
pasar untuk membeli sepatu. Ketika ia sedang berjalan dari ruko satu ke ruko
yang lain, ia melihat seorang ibu yang dompetnya kecopetan. Ibu tersebut
membawa seorang anak kecil yang terus menanggis
merengek meminta sebuah boneka. Melihat kejadian tersebut Aisyah merasa
iba, akhirnya ia memberikan separuh uang yang dimilikinya kepada ibu tadi.
Dari kejauhan
teman-teman Aisyah yang melihat kejadian itu, tampak bangga atas apa yang dia
lakukan. Apalagi saa ini ia sangat membutuhkan uang namun ia tidak pelit, dan
lebih mementingkan orang lain. Lalu mereka mendekati Aisyah, dan memberikan
uang yang telah dikumpulkan bersama.
Awalnya ia terkejut, serta menolak tetapi setelah dibujuk akhirnya Aisyah mau
menerima uang tersebut.
“Aisyah aku
sangat banggga padamu.” kata Faris
“Ya sungguh baik
sekali kamu Aisyah.” kata Zahra
“Ja-jadi
kalian…” kata Aisyah
“Tentu saja, oh
ya aku sampai lupa. Aisyah kumohon terimalah ini uang dari kami semua. Kami
mengumpulkan sengaja loh.” kata Syifa seraya menyerahkan amplop putih berisi
uang
“Maaf,
teman-teman aku tak bias menerimanya.” Kata Aisyah
“Ayolah
Aisyah kumohon.” kata Zahra
“ Kali ini
saja…” kata Faris
“Hmm…Baiklah
kalau begitu.” kata Aisyah
“Jadi, sekarang
bagaimana kalau kita segera membeli sepatu?” kata Syifa
“Ayo…” kata
mereka serentak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar