Kamis, 18 Februari 2016

CERPEN ANAK ISLAMI



Sepatu Untukku
Hani Aristantika


Aisyah adalah seorang gadis cilik yang duduk dibangku kelas 4 SD, di MI Tanjung daerah Kalimantan. Ia tinggal bersama nenek, dan kedua orang tuanya. Aisyah hidup dalam kesederhanaan yang dibarengi dengan kentalnya bekal ilmu agama islam. Setiap harinya ia membantu ibu, dan neneknya di warung kadang-kadang juga ia membantu bapaknya bekerja di ladang. Sekarang Aisyah telah hafal sekitar 12 juzz Al-Qur'an, dan khatam 2 kali. Walaupun begitu ia tidak sombong, malah Aisyah kadang membantu temanya yang kesulitan membanca Al-Qur'an. Jadi tidak heran jika Aisyah memiliki banyak teman.

Suatu hari Aisyah beserta Syifa, Faris, dan Zahra sedang berjalan menuju sekolah, mereka saling bercanda dan bercerita di jalan. Ketika melewati tanah berbatuan, tiba-tiba saja Aisyah menjerit kesakitan. Ternyata sepatunya telah jebol, dan rusak parah sehingga kerikil-kerikil tadi masuk serta diinjak oleh Aisyah. Kakinya pun berdarah, lalu mereka memutuskan untuk berhenti sejenak.

“Astagfirullah” kata Aisyah

“Kamu kenapa Aisyah?” tanya Faris

“Aisyah, kakimu berdarah.” kata Zahra

“Tidak apa-apa kok, hanya lecet saja. Sepatuku jebol dan tidak sengaja aku menginjak kerikil.” kata Aisyah sambil tersenyum

“Sini biar aku obati.” kata Syifa

“Tidak perlu, ayo kita cepat nanti terlambat.” kata Aisyah

Mereka pun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Aisyah tetap berjalan seperti biasa walau harus merasakan rasa sakit. 10 menit kemudian ia, Syifa, Faris, dan Zahra sampai di sekolah tepat waktu dimulai. Pelajaran hari ini seharusnya adalah bahasa inggris, namun karena guru hanya datang sebulan sekali jadi kadang diselingi matematika, ipa, dan agama. Maklumlah jarak menuju daerah Aisyah tinggal ini cukup jauh dari kecamatan, sehingga keadaanya memprihatinka. Walaupun begitu semangat kami tak pernah pudar untuk sekolah. Buktinya ada sekitar 60 anak yang bersekolah di MI Tanjung. Pelajaranpun segera dimulai.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.” kata Pak Sulaiman

“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatu.” kata semua murid

“Hari ini karena Bu Rere tidak hadir, maka pelajaran bahasa  inggris diganti dengan pendidikan agama.” Kata Pak Sulaiman

“Baik, pak.” kata semua murid

“Nah, yang akan kita bahas adalah mengenai sebuah Hadist riwayat Baihaqi yang berbunyi,  Innallaha yuhibbu idza’amila ahadukum ‘amalan anyutqinahu.Artinya sesungguhnya Allah menyukai jika salah satu dari kalian melakukan amalan (pekerjaan) yang dilakukan dengan tekun (maksimal/sebaik-baiknya).” kata Pak Sulaiman

“Pak apa maksud dari hadis tersebut?” kata Faris

“Maksudnya yaitu hadist tadi mengajarkan kita tentang manfaat dari tekun dalam beramal atau bekerja akan sentiasa dicintai oleh Allah Ta’ala.” kata Pak Sulaiman

“Jadi kalau kita dicintai oleh Allah maka semua yang kita lakukan akan mendapatkan balasan?” kata Zahra

“Tentu saja, maka dari itu dalam melakukan segala sesuatu kita harus bersungguh-sunggur agar kita menjadi manusia yang dicintai oleh Allah.” kata Pak Sulaiman

“Seperti Mn Jadda Waa Jadda ya pak?” kata Aisyah

“Ya kurang  lebih seperti itu. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.” Kata Pak Sulaiman

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat bunyi lonceng menandakan pelajaran selesai. Setelah berdo’a dan Pak Sulaiman memberikan salam, kami pun berjalan keluar kelas bersama. Dengan melewati jalanan terjal naik turun keadaan kaki Aisyah semakin parah, jika samapi besok ia belum dibelikan sepatu mungkin besok ia harus berangkat sekolah memakai sandal. Sesampainya sebelum ke rumah Asiyah  mampir dahulu di warung ibunya untuk meminta sepatu, sekaligus bantu-bantu.

“Assalamu’alaikum.” kata Aisyah

“Wa’alaikum salam. Sudah pulang ya? Aisyah kaki kamu kenapa?” kata Ibu

 “Iya bu, tadi sepatu Aisyah jebol , dan banyak kerikil masuk lalu aku sengaja keinjak.” kata Aisyah sambil tersenyum

“ Begitu ya, sini biar ibu obati.” kata Ibu

 “Oh ya Aisyah boleh meminta sesuatu tidak bu?’ Tanya Aisyah

“Memangnya mau minta apa?” kata Ibu

“Minta sepatu bu.” kata Aisyah


Sang ibu hanya terdiam, setelah beberapa menit kemudian tetesan air mata mulai membasahi pipi beliau. Aisyah masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ibunya menangis.

“Nak, sabar ya. Ibu, dan ayah tidak punya uang sekarang jadi Aisyah tolong mengerti ya.” kata Ibu

“Iya bu.” kata Aisyah sambil tersenyum

Malam itu di kamarnya Aisyah tampak sedang termenung, ia berpikir keras bagaimana dengan besok, bagaimana dengan sepatunya?.  Apakah dia harus berangkat dengan memakai sandal? Waktu menunjukkan pukul 20.00  Aisyah terlihat mondar-mandir kesana kemari, hingga sampai suatu ketika sebuah ide muncul didalam benaknya.Walaupun begiu masalah belum sepenuhya selesai. Masih ada beberapa kendala yang mesti dia hadapi untuk mewujudkan idenya tersebut.

Keesokan harinya Aisyah terpaska berangkat memakai sandal, tentu saja hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi Syifa, Zahra, dan Faris. Tetapi Aisyah hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Sesampainya di sekolah, kebetulan hari ini guru dari dinas yaitu Bu Rere datang mengajar. Sontak saja Aisyah mendapatkan teguran.

“Aisyah, kenapa kamu tidak mamakai sepatu?” kata Bu Rere

“Maaf bu, saya salah karena tidak memakai sepatu.” kata Aisyah

“ Baiklah, untuk hari ini ibu maafkan. Tetapi besok-besok lagi kalau sekolah kamu harus mamakai sepatu.” kata Bu Rere

“Iya bu, terima kasih.” kata Aisyah

Alhamdulillah Bu Rere berbaik hati pada Aisyah hari ini, sehingga ia tidak dimarahi. Rencananya pulang sekolah nanti ia akan pergi ke pasar untuk bekerja menjadi kuli, atau apa sajalah yang penting halal, dan uangnya bisa ia kumpulkan untuk  membeli sepasang sepatu. Semoga saja Allah melancarkan niatnya tersebut, selain Aisyah ingin meringankan beban orang tuanya, ia juga tidak ingin merepotkan.

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00, pelajanpun berakhir, unuk hari ini Aisyah sengaja pulang sendiri. Jarak dari sekolah menuju pasar cukup jauh, apalagi jika ditempuh dengan berjalan kaki. Meskipun begitu ia tampak semangat, dan tidak ada kata putus asa didalam pancaran sinar matanya. Ketika sampai di pasar, dengan ramah ia menawarkan tenaganya Aisyah tidak pernah mematok upah.Walaupun begitu ada juga yang tega tidak memberinya uang sepeserpun, tetapi Aisyah tetap bersyukur karena ada yang memberinya uang lebih. 




“Permisi bu, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Aisyah ramah

“Oh tentu saja, bisa bawakan belanjaan ini ke depan parkiran?” kata Seorang Ibu

“Parkiran depan ya, baik.” kata Aiysah sambil tersenyum

“Ayo lewat sini.” kata Seorang Ibu

 “Iya.” kata Aisyah


Aisyah pun mengikuti ibu adi sampai ke tempat tujuan  dengan membawa belanjaan, sesampainya di parkiran ia memberikan uang sebagai upah. Sekarang hampir seiap hari Aisyha pergi ke pasar untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membeli sepasang sepatu. Setiap pekerjaana selalu dilakukan dengan penuh semangat, dan bersungguh-sungguh.

Suatu hari ketiga teman Aisyah mengeahui bahwa ia bekerja di pasar, lalu mereka hendak membantu. Ia pun berusaha menolak penawaran tersebut dengan alasan ingin bekerja, dan membeli sepatu dengan usahanya sendiri. Dengan rasa berat hati mereka menerima keputusan yang telah Aisyah buat. Walaupun begitu teman-teman Aisyah memiliki sebuah rencana untuk membantu tanpa sepengahuan Aisyah. Sampai suatu ketika ia mengetahui rencana tersebut secara tidak sengaja.

“Maaf teman-teman, bukannya aku sombong. Tetapi aku ingin membeli sepattu dengan jerih payahku sendiri, aku tidak mau menyusahkan kalian.” kata Aisyah

“ Kami tidak merasa direpotkan kok.” kata Faris

 “Iya itu benar.” kata Syifa

“ Aku benar-benar minta maaf, ini sudah menjadi keputusanku. Kumohon kalian bias mengerti.” kata Aisyah

“Baiklah kalau memang begitu.” kata Zahra

Dua minggu kemudian, uang yang telah dikumpulkan Aisyah sudah cukup untuk membeli sepatu walaupun hanya Rp.150.000,00. Keesokan harinya sepulang sekolah Aisyah pergi ke pasar untuk membeli sepatu. Ketika ia sedang berjalan dari ruko satu ke ruko yang lain, ia melihat seorang ibu yang dompetnya kecopetan. Ibu tersebut membawa seorang anak kecil yang terus menanggis  merengek meminta sebuah boneka. Melihat kejadian tersebut Aisyah merasa iba, akhirnya ia memberikan separuh uang yang dimilikinya kepada ibu tadi.




Dari kejauhan teman-teman Aisyah yang melihat kejadian itu, tampak bangga atas apa yang dia lakukan. Apalagi saa ini ia sangat membutuhkan uang namun ia tidak pelit, dan lebih mementingkan orang lain. Lalu mereka mendekati Aisyah, dan memberikan uang yang telah  dikumpulkan bersama. Awalnya ia terkejut, serta menolak tetapi setelah dibujuk akhirnya Aisyah mau menerima uang tersebut.

“Aisyah aku sangat banggga padamu.” kata Faris

“Ya sungguh baik sekali kamu Aisyah.” kata Zahra

“Ja-jadi kalian…” kata Aisyah

“Tentu saja, oh ya aku sampai lupa. Aisyah kumohon terimalah ini uang dari kami semua. Kami mengumpulkan sengaja loh.” kata Syifa seraya menyerahkan amplop putih berisi uang

“Maaf, teman-teman aku tak bias menerimanya.” Kata Aisyah

“Ayolah Aisyah  kumohon.” kata Zahra

“ Kali ini saja…” kata Faris

“Hmm…Baiklah kalau begitu.” kata Aisyah

“Jadi, sekarang bagaimana kalau kita segera membeli sepatu?” kata Syifa

“Ayo…” kata mereka serentak

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar