Kamis, 18 Februari 2016

CERPEN TENTANG KEBUDAYAAN



Di Antara Gembel
Hani Aristantika
Matahari belum menampakkan sinarnya,udara yang dingin masih menyelimuti desa,kabut yang tebal baru saja akan turun dari atas gunung. Tepat pukul 04.00 WIB  aku terbangun dari tidurku, suara-suara merdu azan bergema dari seluruh penjuru mengajakku untuk bergegas menuju surau. Namaku Ardi, orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan “Mbel” yang berarti gembel. Menurut simbok panggilan itu bermula saat umurku masih 1 tahun, entah mengapa aku sering sekali demam dan setelah suhu badanku normal rambutku berubah menjadi gembel.
Sesampainya di surau, aku bertemu dengan Toni dan Dimas temanku dari kecil. Mereka sama-sama memiliki rambut gembel, hanya saja berbeda jenis. Milikku Gembel Pare, Toni Gembel Wedhus, dan Dimas Gembel Pari. Lalu kami bertiga pun, bersiap-siap menata diri pada barisan shaf sholat. Sekitar 15 menit kemudian matahari mulai naik dan menerangi bumi. Kamipun pulang bersama dan bercerita di jalan.
“Eh, kamu tahu tidak? Katanya ada Dieng Culture Festival yang memasukkan acara ruwatan gimbal masal, ” kata Dimas
“Benarkah? Gimana kalau kita mendaftar untuk menjadi, salah satu peserta ruwatan dalam Dieng Culture Festival? Selain gratis, kitakan bisa bersama-sama janji ya? “kata Toni
“Oke, ”kata Dimas
“Baiklah, nanti aku coba cari informasinya. ’’kata Ardi
Takku sangka kami harus berpisah di depan gang menuju arah rumah masing. Sesampainya di rumah akupun mengucapkan salam, dan langsung di sambut oleh simbok.
“Assalamu’alaikum…”kata Ardi
“Wa’alaikum salam. Baru pulang ya? “tanya Simbok
“Iya, mbok. ’’
“Ya sudah, sekarang kamu siap-siap sekolah, jangan sampai telat. ’’kata Simbok
“Beres mbok.’’kata Ardi
Setelah itu,akupun berangkat sekolah. Di jalan kami bertiga harus melewati beberapa ladang kentang yang luas milik keluarga Dimas. Dia memang anak dari keluarga yang berada ayahnya adalah juragan, Karto namanya. Kucuran air otomatis di ladang sangat deras kami harus menghindarinya agar tidak basah. Tak terasa kami  sampai di depan gerbang.
Hari ini jadwalnya, IPS pelajaran kesukaanku. Sepertinya waktu berlalu begitu cepat bel pulang sekolahpun berbunyi, kami pun pulang bersama dan tidak lupa berbincang-bincang di jalan. Mengingatkan tentang ronda menjaga kentang nanti malam.
“Nanti jangan lupa ya,ku tunggu di gubuk jam 20.00, ’’kata Dimas
“Siap, ” kata Toni
“Beres, ”kata Ardi
Matahari mulai redup suara-suara indah azan mulai bergema, akupun melaksanakan sholat magrib berjamaah di surau. Setelah selesai aku pun langsung pulang menuju rumah.Tak kusangka waktu berlalu begitu saja. Tepat pukul 19.45 WIB bapak mengajakku berangkat menuju ke ladang untuk ronda kentang. Jalan yang ditempuh lumayan gelap, sunyi,dan sangat licin. Harus berhati-hati agar tidak terpeleset atau terjatuh. Sesampainya di gubuk ternyata sudah ada Toni, Dimas, dan juragan Karto.
“Eh, sudah lama ya juragan? Sepertinya, ada hal penting yang mau disampaikan? ” kata Bapak
“Baru saja. Begini, kebetulan harga kentang sekarang kan lagi naik-naiknya to? ”kata juragan Karto
“Benar juragan, lalu? ”kata Bapak
‘’Karena keuntungan kita besar,saya mau memberikan bonus, ”kata juragan Karto
“Terima kasih banyak juragan, ”kata Bapak
“Sama-sama, ”kata juragan Karto.
Kemudian juragan Karto meninggalkan mereka.
“Ardi,besok kamu ruwatan ya nak, kamu mau kan? ”kata Bapak
“Iya pak, ”kata Ardi
Jujur saja aku sangat terkejut mendengar perkataan bapak tadi. Campur aduk perasaanku saat itu. Senang karena akhirnya rambut gembelku akan dipotong tapi sedih juga karena aku sudah janji akan potong gembel bareng kedua sahabatku.  Konon katanya, kalau pemotongan rambut gembel dilakukan tanpa permintaan si anak, rambut itu akan tumbuh lagi. Tapi apa boleh buat aku tidak bisa menolak. Alasannya karena orang tua sudah berkehendak macam Tuhan. Sambil berjalan Toni dan Dimas mencoba meminta keteranganku.
“Ardi, benarkah kamu mau diruwat besok, ”kata Toni
“Jadi, kamu tidak ikut acara Dieng Culture Festival? ”kata Dimas
“Iya, itu benar,mengenai acara Dieng Culture Festival, aku tidak tahu, ”kata Ardi
Keesokan harinya,tepat saat upacara ruwatanku,yang pertama dilakukan adalah dikirab atau diarak mengelilingi desa menuju kompleks Candi Arjuna,kata hati Ardi  “Wah,asyik sekali ya,aku di bawa keliling kampung.Seperti aku anak yang paling beruntung dan paling bahagia di dunia,” Prosesi selanjutnya sang dukun mengucapkan beberapa mantera gaib, kata hati Ardi “Aduh,sang dukun ngomong apa sih,aku nggak ngerti nih,tapi apapun  yang diucapkan  aku harus mengamininnya,”( sambil tertawa ). Di saat memercikkan air dari subuah sumur yang disebut Sendang Sedayu, ” Sepertinya asyik sekali ya,jika Toni,dan Dimas juga bisa dipotong gembelnya sekarang ini,” ( batin Ardi ).

Saat sesaji disuguhkan,“ coba kalo saat ini diijinkan makan, pasti aku akan menghabiskan sesaji itu, hahahaha” ( batin Ardi ). Akupun mengucapkan sesuatu yang aku inginkan,akan tetapi itu bukan permintaanku,melainkan permintaan bapakku. Lalu rambut gembelku dicukur, dan dibungkus dengan kain putih,kata hati Ardi ” Semoga saja,rambut gembelku tidak tumbuh lagi,karena ini bukan permintaanku,tapi ini permintaaan bapak,”kemudian diberi beberapa sesaji,dan dido’akan oleh sang dukun. Yang terakhir adalah melarung atau menghanyutkan bungkusan tadi, ke Telaga Warna yang mengalir ke Sungai Serayu dan berhilir ke Pantai Selatan di Samudera Hindia.”Pergi jauh-jauh ya,selamat jalan rambut gembelku,”(batinya). Setelah prosesi ruwatan selesai,Dimas dan Toni pun menghampiriku,mengucapkan selamat sekaligus berjabat tangan.

“Selamat ya Ardi, ”kata Toni

“Selamat, ”kata Dimas

“Makasih,teman-teman, ”kata Ardi

Seusai acara ruwatan tadi,simbok memberiku sebuah hadiah kecil, isinya adalah topi yang bertuliskan Dieng. Setiap hari aku pun selalu memakainya dengan bangga.

3 bulan kemudian…………………….

Dieng Culture Festival tahun 2015 membuka pendaftaran bagi peserta yang berminat,  mengikuti ruwatan rambut gembel. Kemudian, aku pun mendaftarkan Toni, dan Dimas. Tanpa sepengetahuan mereka aku juga ikut menjadi salah satu peserta Dieng Culture Festival 2015 karena semenjak pemotongan tahun lalu tak ku sangka si gembel tumbuh lagi. Namun hanya aku yang tahu, karena selalu kututup dengan topi pemberian simbok.

“Oh ya,aku sudah daftarin kalian dalam acara Dieng Culture Festival, ”kata Ardi

“benarkah? ”kata Toni

“Terima kasih ya Ardi, ”kata Dimas

“Sama-sama, ”kata Ardi

Angin pun berhembus sangat kencang, sehingga membuat topi yang menutupi rambutku terbang jauh ke angkasa. Lalu, betapa terkejutnya Toni,dan Dimas. Melihat rambut gembelku tumbuh lagi.
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar