Di Antara Gembel
Hani Aristantika
Matahari belum menampakkan sinarnya,udara
yang dingin masih menyelimuti desa,kabut yang tebal baru saja akan turun dari
atas gunung. Tepat pukul 04.00 WIB aku
terbangun dari tidurku, suara-suara merdu azan bergema dari seluruh penjuru
mengajakku untuk bergegas menuju surau. Namaku Ardi, orang-orang biasa memanggilku
dengan sebutan “Mbel” yang berarti gembel. Menurut simbok panggilan itu bermula
saat umurku masih 1 tahun, entah mengapa aku sering sekali demam dan setelah suhu
badanku normal rambutku berubah menjadi gembel.
Sesampainya di surau, aku bertemu dengan Toni
dan Dimas temanku dari kecil. Mereka sama-sama memiliki rambut gembel, hanya
saja berbeda jenis. Milikku Gembel Pare, Toni Gembel Wedhus, dan Dimas Gembel
Pari. Lalu kami bertiga pun, bersiap-siap menata diri pada barisan shaf sholat.
Sekitar 15 menit kemudian matahari mulai naik dan menerangi bumi. Kamipun
pulang bersama dan bercerita di jalan.
“Eh, kamu tahu tidak? Katanya ada Dieng
Culture Festival yang memasukkan acara ruwatan gimbal masal, ” kata Dimas
“Benarkah? Gimana kalau kita mendaftar untuk
menjadi, salah satu peserta ruwatan dalam Dieng Culture Festival? Selain
gratis, kitakan bisa bersama-sama janji ya? “kata Toni
“Oke, ”kata Dimas
“Baiklah, nanti aku coba cari informasinya. ’’kata
Ardi
Takku sangka kami harus berpisah di depan
gang menuju arah rumah masing. Sesampainya di rumah akupun mengucapkan salam, dan
langsung di sambut oleh simbok.
“Assalamu’alaikum…”kata Ardi
“Wa’alaikum salam. Baru pulang ya? “tanya
Simbok
“Iya, mbok. ’’
“Ya sudah, sekarang kamu siap-siap sekolah, jangan
sampai telat. ’’kata Simbok
“Beres mbok.’’kata Ardi
Setelah itu,akupun berangkat sekolah. Di
jalan kami bertiga harus melewati beberapa ladang kentang yang luas milik keluarga
Dimas. Dia memang anak dari keluarga yang berada ayahnya adalah juragan, Karto
namanya. Kucuran air otomatis di ladang sangat deras kami harus menghindarinya
agar tidak basah. Tak terasa kami sampai
di depan gerbang.
Hari ini jadwalnya, IPS pelajaran kesukaanku.
Sepertinya waktu berlalu begitu cepat bel pulang sekolahpun berbunyi, kami pun
pulang bersama dan tidak lupa berbincang-bincang di jalan. Mengingatkan tentang
ronda menjaga kentang nanti malam.
“Nanti jangan lupa ya,ku tunggu di gubuk jam
20.00, ’’kata Dimas
“Siap, ” kata Toni
“Beres, ”kata Ardi
Matahari mulai redup suara-suara indah azan mulai
bergema, akupun melaksanakan sholat magrib berjamaah di surau. Setelah selesai aku
pun langsung pulang menuju rumah.Tak kusangka waktu berlalu begitu saja. Tepat
pukul 19.45 WIB bapak mengajakku berangkat menuju ke ladang untuk ronda
kentang. Jalan yang ditempuh lumayan gelap, sunyi,dan sangat licin. Harus
berhati-hati agar tidak terpeleset atau terjatuh. Sesampainya di gubuk ternyata
sudah ada Toni, Dimas, dan juragan Karto.
“Eh, sudah lama ya juragan? Sepertinya, ada
hal penting yang mau disampaikan? ” kata Bapak
“Baru saja. Begini, kebetulan harga kentang
sekarang kan lagi naik-naiknya to? ”kata juragan Karto
“Benar juragan, lalu? ”kata Bapak
‘’Karena keuntungan kita besar,saya mau
memberikan bonus, ”kata juragan Karto
“Terima kasih banyak juragan, ”kata Bapak
“Sama-sama, ”kata juragan Karto.
Kemudian juragan Karto meninggalkan mereka.
“Ardi,besok kamu ruwatan ya nak, kamu mau
kan? ”kata Bapak
“Iya pak, ”kata Ardi
Jujur saja aku sangat terkejut mendengar
perkataan bapak tadi. Campur aduk perasaanku saat itu. Senang karena akhirnya
rambut gembelku akan dipotong tapi sedih juga karena aku sudah janji akan
potong gembel bareng kedua sahabatku. Konon
katanya, kalau pemotongan rambut gembel dilakukan tanpa permintaan si anak, rambut
itu akan tumbuh lagi. Tapi apa boleh buat aku tidak bisa menolak. Alasannya
karena orang tua sudah berkehendak macam Tuhan. Sambil berjalan Toni dan Dimas
mencoba meminta keteranganku.
“Ardi, benarkah kamu mau diruwat besok, ”kata
Toni
“Jadi, kamu tidak ikut acara Dieng Culture
Festival? ”kata Dimas
“Iya, itu benar,mengenai acara Dieng Culture
Festival, aku tidak tahu, ”kata Ardi
Keesokan harinya,tepat saat upacara ruwatanku,yang
pertama dilakukan adalah dikirab atau diarak mengelilingi desa menuju kompleks
Candi Arjuna,kata hati Ardi “Wah,asyik sekali ya,aku di bawa keliling kampung.Seperti
aku anak yang paling beruntung dan paling bahagia di dunia,” Prosesi selanjutnya
sang dukun mengucapkan beberapa mantera gaib, kata hati Ardi “Aduh,sang dukun ngomong apa sih,aku nggak
ngerti nih,tapi apapun yang diucapkan aku harus mengamininnya,”( sambil tertawa
). Di saat memercikkan air dari subuah sumur yang disebut Sendang Sedayu, ” Sepertinya asyik sekali ya,jika Toni,dan
Dimas juga bisa dipotong gembelnya sekarang ini,” ( batin Ardi ).
Saat sesaji disuguhkan,“ coba kalo saat ini diijinkan makan, pasti aku akan menghabiskan sesaji itu, hahahaha” ( batin Ardi ). Akupun
mengucapkan sesuatu yang aku inginkan,akan tetapi itu bukan
permintaanku,melainkan permintaan bapakku. Lalu rambut gembelku dicukur, dan
dibungkus dengan kain putih,kata hati Ardi ” Semoga saja,rambut gembelku tidak tumbuh lagi,karena ini bukan permintaanku,tapi
ini permintaaan bapak,”kemudian diberi beberapa sesaji,dan dido’akan oleh sang
dukun. Yang terakhir adalah melarung atau menghanyutkan bungkusan tadi, ke
Telaga Warna yang mengalir ke Sungai Serayu dan berhilir ke Pantai Selatan di
Samudera Hindia.”Pergi jauh-jauh ya,selamat
jalan rambut gembelku,”(batinya). Setelah prosesi ruwatan selesai,Dimas dan
Toni pun menghampiriku,mengucapkan selamat sekaligus berjabat tangan.
“Selamat ya Ardi, ”kata Toni
“Selamat, ”kata Dimas
“Makasih,teman-teman, ”kata Ardi
Seusai acara ruwatan tadi,simbok memberiku
sebuah hadiah kecil, isinya adalah topi yang bertuliskan Dieng. Setiap hari aku
pun selalu memakainya dengan bangga.
3 bulan kemudian…………………….
Dieng Culture Festival tahun 2015 membuka
pendaftaran bagi peserta yang berminat, mengikuti
ruwatan rambut gembel. Kemudian, aku pun mendaftarkan Toni, dan Dimas. Tanpa
sepengetahuan mereka aku juga ikut menjadi salah satu peserta Dieng Culture
Festival 2015 karena semenjak pemotongan tahun lalu tak ku sangka si gembel
tumbuh lagi. Namun hanya aku yang tahu, karena selalu kututup dengan topi
pemberian simbok.
“Oh ya,aku sudah daftarin kalian dalam acara
Dieng Culture Festival, ”kata Ardi
“benarkah? ”kata Toni
“Terima kasih ya Ardi, ”kata Dimas
“Sama-sama, ”kata Ardi
Angin pun berhembus sangat kencang, sehingga
membuat topi yang menutupi rambutku terbang jauh ke angkasa. Lalu, betapa
terkejutnya Toni,dan Dimas. Melihat rambut gembelku tumbuh lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar